Tuesday, July 4, 2017

Baju Koko Terakhir Untuk Ayah Bersama Elevenia


Baju Koko Terakhir Untuk Ayah 
Bersama Elevenia
By: @ClaraNovK



Sudah genap 1 Tahun kepergian Ayah memang membuatku berduka, tapi pelajaran baik dari beliau akan kuingat selamanya.
Kita tidak memiliki kendali atas kehidupan. Itulah yang kita sebut dengan takdir.
Terjadilah apapun yang sudah dikehendaki oleh yang diatas.
Terkadang kita tidak akan pernah tahu betapa berharga setiap momen itu sampai akhirnya menjadi sebuah kenangan.


Sewaktu Ayah masih hidup, Ayah memutuskan berpindah untuk memeluk keyakinan lain.
Ayah seorang Mualaf dan Ibu adalah seorang Nasrani.
Walaupun kami bertiga saling memeluk keyakinan yang berbeda, itu tidak membuat hubungan kami renggang.
Memang membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan perbedaan yang ada.
Awalnya memang sulit menerima keputusan Ayah, sebagai seorang anak tunggal aku adalah seorang yang egois.
Tidak bisa menerima alasan apapun dari orang lain, pokoknya orang lain harus mengikuti kehendak-ku.

Ayah, Aku, and Ibu

Toleransi itu tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa.
Sampai pada satu titik saya sadar dan mulai merefleksi diri, Ibu-ku tidak pernah mengeluh tentang kepindahan Ayah memeluk agama lain. Mengapa aku harus begitu egois untuk tidak bisa memahami keputusan Ayah.
Saat Ayah berpuasa, Ibu yang menyiapkan Sahur dan juga berbuka untuk Ayah.
Ibu-ku juga yang membangunkan Ayah ketika sudah waktu untuk Sahur.
Cinta dari kedua orang tua-ku juga tidak berkurang sedikit pun.
Jadi, ketakukan akan kebersamaan itu hilang hanya karena Ayah berpindah agama itu tiba-tiba saja sirna.

Indahnya perbedaan dalam toleransi. Inilah budaya dan adat Indonesia yang sebenar-benarnya.
Kami juga menyiapkan lebaran dengan membeli kue kering untuk supir dan pembantu kami yang sudah bekerja di keluarga kami 20 tahun lamanya. Memberikan kue lebaran untuk supir dan pembantu kami yang merayakan lebaran merupakan satu hal yang menyenangkan. Karena dengan memberi, kita bisa berbagi sukacita dengan orang lain.
Menyerahkan kambing untuk berkurban pada lebaran yang lalu bersama Ayah, adalah satu momen yang berharga karena kita bisa memberikan sedikit rejeki kita kepada orang lain.

Ayah-ku adalah pribadi yang unik. Dia paling senang menjadi pusat perhatian dan selalu berusaha berpikiran terbuka. Dan ketika aku bertemu dengan teman-teman Ayah, mereka bercerita tentang betapa baiknya dan humorisnya Ayah-ku. Menurut mereka, Ayah adalah yang paling ringan tangan memberi bantuan saat ada kawan-kawannya yang tertimpa musibah atau kesulitan. Ayah senang membantu melariskan jualan teman sekantornya, beliau menolong dengan membeli kue lebaran yang dijual oleh teman-nya. Sehingga dirumah selalu menumpuk stock kue kering menjelang lebaran.

Makan Malam Bersama di Hari Lebaran
Masakan Ibu

Ibu, Mbak Inem, & Pak Sariyo Makan Lebaran Bersama
Aku  rindu sekali saat kebersamaan dengan Ayah ketika Lebaran datang.
Makan ketupat buatan Ibu-ku merupakan hal yang paling dinanti-nanti ketika lebaran tiba.
Tetapi tahun ini, aku dan Ibu telah mempersiapkan diri untuk Hari pertama puasa tanpa Ayah.
Di akhir minggu menjelang puasa, aku memberanikan diri untuk membersihkan meja Ayah-ku. 
Dan aku menemukan Tas, Tas ini adalah hadiah ulang tahun pemberian aku kepadanya tahun lalu yang aku beli dari Elevenia. 
Aku merasakan sesuatu mengalir di pipiku. Air mata ini tidak bisa menyangkal betapa aku merindukannya saat ini. Tidak pernah tahu bahwa dia mencintai dan menghargai banyak hadiah dari saya kepada-nya. Dia menyimpan hadiah ulang tahun pemberian dariku di laci meja kerja-nya. Jadi dia akan selalu ingat.


Seketika itu aku ingat, Ayah berpesan minta dibelikan Baju Koko berwarna putih untuk beliau kenakan saat hari raya tahun 2016 yang lalu.
Karena sebelumnya aku sempat membelikan beliau baju koko dari Elevenia, untuk beliau kenakan saat Dinas. Dan Ayah sangat suka dengan Baju Koko yang saya belikan dari Elevenia.
Bahannya halus dan nyaman untuk dipakai.
Tetapi awal Juni 2016 Ayah telah menghembuskan napas terakhirnya.
Saya belum sempat untuk bisa memenuhi permintaan terakhirnya.


Ayah selalu mengatakan kepada aku:
Menjadi wanita mandiri tidak selalu hal buruk dan negatif. Selama Anda tidak melupakan nilai dan martabat Anda sebagai Wanita itu sendiri. Jadilah wanita Jawa yang santun dalam bertutur kata dan berperilaku. Jangan mudah sombong jika kamu sukses nanti.
Ayah tidak membiarkanku mendapatkan masa depan yang buruk.

Semangatmu akan selalu tinggal di hatiku. Aku tahu Ayah sekarang adalah bagian dari segalanya dan aku merasakan cinta yang mengelilingi-ku disetiap nafas yang Aku ambil.
Ayah akan selalu menjadi sahabat terbaik-ku, mentor terbesar-ku, motivasi-ku dan akar terdalam-ku. Cintaku padamu tak ada habisnya, aku senantiasa berterima kasih atas pengetahuan yang Ayah bagikan kepada-ku serta pelajaran hidup yang tak tergantikan yang aku jalani.

Hidup tak seharusnya dijalani dengan setengah hati. Dari Ayah, aku belajar memantapkan tujuan hidup dan fokus mengejar mimpi.
Kenangan bersama orang-orang tercinta adalah yang paling berharga. Meski tak lagi bersama, ingatan tentang Ayah akan selalu kusimpan dalam memori.



Aku tidak akan pernah menyerah dan tidak akan pernah mundur dari apapun.
Aku merasa terhormat menjadi anak perempuanmu. Aku selamanya dipenuhi dengan terang dan cintamu. Ayah akan selalu menjadi hadiah terbesar-ku.

Kehilangan tak melulu harus ditangisi. Di momen Lebaran kali ini aku belajar tentang cinta kasih dan arti menyayangi.
Harta yang paling indah adalah keluarga.
Untuk Ayah yang kini tak lagi bersamaku, terima kasih.


So, i think that's all about my review..
Let me know what you think..
Please drop your comments on my post!


THANK YOU FOR READING MY BLOG!
good luck everyone!
Love/Lief/Tresno,





Clara xxx

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...